Ketika Marah Kehilangan Rem: Dari Kemarahan, Main Hakim Sendiri, hingga Hilangnya Nyawa
Ada sesuatu yang patut kita renungkan dari berbagai kasus kekerasan yang belakangan muncul di tengah masyarakat.
Sebuah persoalan kecil bisa berubah menjadi keributan. Keributan berubah menjadi pengeroyokan. Pengeroyokan berubah menjadi kekerasan brutal. Dan dalam beberapa kasus, akhirnya ada nyawa manusia yang hilang.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar:
Mengapa orang bisa begitu tega melakukan kekerasan?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
Mengapa manusia bisa bergerak begitu cepat dari marah → merasa benar → menghakimi → melakukan kekerasan → bahkan menghilangkan nyawa?
Sebab membunuh tidak selalu dimulai dari niat membunuh.
Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana:
kemarahan.
Marah Itu Manusiawi, Tetapi Marah Tanpa Rem Itu Berbahaya
Marah adalah bagian dari kehidupan manusia.
Kita marah ketika merasa dirugikan. Marah ketika melihat ketidakadilan. Marah ketika seseorang melakukan sesuatu yang menurut kita salah.
Masalahnya bukan pada rasa marah.
Masalah muncul ketika kemarahan mengambil alih akal sehat.
Awalnya mungkin hanya:
“Dia salah.”
Lalu berubah menjadi:
“Dia harus diberi pelajaran.”
Kemudian:
“Dia pantas dipukuli.”
Dan akhirnya:
“Kalau sampai mati, itu salahnya sendiri.”
Perhatikan bagaimana sebuah kalimat berubah.
Dari menilai perbuatan, menjadi menghakimi manusia.
Dari menghakimi, kemudian merasa memiliki hak untuk menghukum.
Dan ketika batas itu hilang, kekerasan menjadi sangat mudah terjadi.
Dari “Dia Salah” Menjadi “Dia Pantas Disakiti”
Ini adalah salah satu perubahan paling berbahaya dalam cara berpikir manusia.
Ada perbedaan besar antara:
“Dia melakukan kesalahan.”
dan
“Karena dia salah, maka dia pantas menerima apa pun yang kami lakukan kepadanya.”
Keduanya tidak sama.
Seseorang mungkin memang melakukan kejahatan. Tetapi kesalahan seseorang tidak otomatis memberikan hak kepada orang lain untuk menyiksa, menganiaya, atau bahkan menghilangkan nyawanya.
Di sinilah peradaban membutuhkan hukum.
Hukum bukan hanya untuk melindungi orang baik.
Hukum justru diperlukan ketika emosi sedang tinggi, ketika masyarakat sedang marah, dan ketika seseorang dianggap pantas menerima hukuman.
Sebab jika setiap orang bebas menghukum berdasarkan kemarahannya sendiri, maka masyarakat tidak lagi hidup berdasarkan hukum.
Kita hidup berdasarkan siapa yang paling kuat.
Ketika Kerumunan Menghilangkan Rem Individu
Ada persoalan lain yang membuat kekerasan semakin berbahaya: massa.
Seseorang yang sendirian mungkin masih memiliki pertimbangan:
“Jangan-jangan saya salah.”
Tetapi ketika berada dalam kerumunan yang sedang terbakar emosi, keberanian bisa berubah menjadi keberingasan.
Satu orang berteriak.
Yang lain ikut.
Kemudian beberapa orang mulai memukul.
Yang lainnya merasa:
“Semua orang juga melakukan.”
Di sinilah tanggung jawab individu mulai terasa kabur.
Padahal banyak tangan yang memukul tetap terdiri dari individu-individu yang masing-masing bertanggung jawab atas tindakannya.
Massa dapat memperbesar keberanian, tetapi juga dapat memperkecil rasa bersalah.
Dan kombinasi keduanya sangat berbahaya.
Ketika Media Sosial Menjadi Pengadilan
Hari ini ada persoalan baru yang tidak bisa kita abaikan: media sosial.
Sebuah peristiwa dapat direkam dalam hitungan detik.
Kemudian tersebar.
Orang-orang memberikan komentar.
Potongan video menjadi bahan penghakiman.
Seseorang yang bahkan tidak berada di tempat kejadian ikut memberikan vonis.
Masalahnya, kita sering melihat potongan peristiwa, bukan keseluruhan fakta.
Kita melihat beberapa detik video, lalu merasa mengetahui seluruh kejadian.
Kita membaca satu narasi, lalu merasa sudah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah.
Padahal fakta membutuhkan pemeriksaan.
Keadilan membutuhkan proses.
Dan kebenaran tidak selalu sesederhana apa yang muncul di layar ponsel kita.
Jangan sampai masyarakat memiliki pengadilan media sosial yang jauh lebih cepat daripada proses mencari kebenaran.
Yang Lebih Berbahaya: Ketika Kekerasan Mulai Dianggap Wajar
Menurut saya, bagian paling mengkhawatirkan bukan hanya kekerasannya.
Tetapi normalisasi kekerasan.
Ketika terlalu sering melihat pengeroyokan, tawuran, persekusi, atau orang dipermalukan di depan umum, kita bisa mengalami perubahan sensitivitas.
Dulu ketika melihat seseorang dipukuli, mungkin spontan kita berkata:
“Astaghfirullah. Kok tega?”
Namun lama-kelamaan bisa berubah menjadi:
“Ya, pantas saja.”
Kalimat “pantas saja” mungkin terdengar sederhana.
Tetapi di baliknya ada perubahan moral yang besar.
Kita mulai menerima kekerasan dengan syarat tertentu.
Kita mulai berpikir bahwa ada orang-orang yang memang layak diperlakukan secara brutal.
Dan ketika masyarakat sudah menerima prinsip itu, pertanyaannya tinggal:
Siapa yang menentukan seseorang pantas disakiti?
Hari ini mungkin orang yang kita anggap penjahat.
Besok mungkin orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Lusa mungkin orang yang salah dituduh.
Dan suatu hari, bisa jadi kita sendiri.
Islam Tidak Mengajarkan Kita Menjadi Hakim Karena Marah
Dalam perspektif Islam, persoalan ini menjadi semakin menarik.
Islam tidak melarang manusia memiliki kemarahan.
Bahkan ada keadaan ketika kemarahan terhadap kezaliman justru diperlukan.
Tetapi Islam tidak membenarkan seseorang menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk berbuat zalim.
Allah memberikan prinsip yang sangat tegas dalam Al-Qur'an:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma'idah: 8)
Perhatikan kalimatnya.
Bahkan ketika kita membenci seseorang, keadilan tetap tidak boleh dicabut.
Ini prinsip yang luar biasa.
Sebab manusia biasanya mudah berlaku adil kepada orang yang disukainya.
Tetapi ukuran keadilan yang sebenarnya justru terlihat ketika kita berhadapan dengan orang yang kita benci.
Amar Ma'ruf Nahi Munkar Bukan Main Hakim Sendiri
Ada juga kekeliruan yang perlu diluruskan.
Ketika seseorang melihat kemaksiatan atau kejahatan, ia mungkin merasa:
“Saya harus melakukan sesuatu.”
Itu benar.
Tetapi melakukan sesuatu untuk mencegah kemungkaran tidak berarti memberikan izin kepada diri sendiri untuk melakukan kezaliman.
Mencegah kejahatan berbeda dengan melampiaskan kemarahan.
Menegakkan keadilan berbeda dengan membalas dendam.
Mengingatkan orang berbeda dengan mempermalukannya.
Menyerahkan pelaku kepada pihak berwenang berbeda dengan menghukumnya sendiri.
Batas-batas ini sangat penting.
Sebab seseorang bisa saja memulai dengan niat:
“Saya ingin membela kebenaran.”
Tetapi tanpa kendali, akhirnya justru menjadi pelaku kezaliman baru.
Ketika Kita Melawan Kezaliman dengan Kezaliman
Ini adalah paradoks yang sangat menyedihkan.
Kita marah karena ada orang yang melakukan kejahatan.
Lalu kita melakukan kekerasan untuk menghukum orang tersebut.
Akhirnya:
kezaliman dilawan dengan kezaliman.
Yang satu salah karena melakukan kejahatan.
Yang lain salah karena menganiaya.
Korban pertama mungkin dianggap sebagai pelaku.
Tetapi kemudian lahir korban kedua dari tindakan main hakim sendiri.
Dan siklusnya tidak pernah selesai.
Kezaliman melahirkan kemarahan.
Kemarahan melahirkan balas dendam.
Balas dendam melahirkan kekerasan.
Kekerasan melahirkan luka baru.
Dan luka baru melahirkan kemarahan berikutnya.
Kalau rantai ini tidak diputus, masyarakat akan terus hidup dalam lingkaran yang sama.
Masalah Besarnya Bukan Sekadar Orang yang Marah
Karena itu, ketika melihat berbagai kasus kekerasan, kita jangan hanya bertanya:
“Siapa yang salah?”
Pertanyaan itu memang penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih besar:
“Mengapa masyarakat kita semakin mudah kehilangan rem ketika marah?”
Apakah karena rendahnya kepercayaan terhadap hukum?
Apakah karena masyarakat merasa hukum tidak cukup cepat memberikan keadilan?
Apakah karena budaya kekerasan semakin biasa ditonton?
Apakah karena media sosial membuat kita terlalu cepat memberikan vonis?
Atau karena kita semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan emosi?
Mungkin jawabannya bukan hanya satu.
Semua faktor itu bisa saling memperkuat.
Sebuah Masyarakat Tidak Diukur dari Seberapa Marah Ia kepada Kejahatan
Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak pernah marah.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu mengelola kemarahannya.
Kita boleh marah terhadap pencurian.
Kita boleh marah terhadap penipuan.
Kita boleh marah terhadap kejahatan.
Kita boleh marah terhadap ketidakadilan.
Tetapi kemarahan itu harus membawa kita kepada keadilan, bukan kepada kebrutalan.
Sebab kalau setiap kesalahan dibalas dengan kekerasan, maka pada akhirnya tidak ada lagi batas yang jelas antara:
orang yang sedang menegakkan keadilan
dan
orang yang sedang melakukan kezaliman.
Sebelum Menghukum Orang Lain, Mari Takut pada Kemungkinan Kita Salah
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu kita bawa setiap kali melihat sebuah kasus viral:
“Bagaimana jika informasi yang saya terima belum lengkap?”
Kemudian pertanyaan berikutnya:
“Bagaimana jika orang yang saya anggap bersalah ternyata tidak sepenuhnya bersalah?”
Dan yang paling penting:
“Kalau saya berada di posisi orang itu, apakah saya ingin diperlakukan seperti ini?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini bisa menjadi rem.
Karena manusia yang sedang marah biasanya membutuhkan rem, bukan tambahan bahan bakar.
Jangan Sampai Kita Menjadi Masyarakat yang Hanya Takut kepada Kejahatan, tetapi Tidak Takut Berbuat Zalim
Kita harus membangun masyarakat yang berani melawan kejahatan.
Tetapi keberanian itu harus berjalan bersama keadilan.
Kita perlu mengajarkan anak-anak kita bahwa marah bukan berarti boleh memukul.
Kita perlu mengajarkan masyarakat bahwa menemukan pelaku bukan berarti boleh menghakimi.
Kita perlu mengajarkan pengguna media sosial bahwa viral bukan berarti benar.
Dan kita perlu mengingatkan diri sendiri:
orang yang melakukan kesalahan tetaplah manusia.
Ia bisa diproses.
Ia bisa dihukum.
Ia bisa dimintai pertanggungjawaban.
Tetapi jangan sampai kita kehilangan kemanusiaan hanya karena sedang marah kepada orang lain.
Sebab ketika kita mulai merasa bahwa kemarahan memberi kita hak untuk menyakiti siapa saja, maka sebenarnya bukan hanya korban yang kehilangan sesuatu.
Kita juga kehilangan sesuatu.
Kita kehilangan batas antara keadilan dan kebencian.
Pada Akhirnya, Siapa yang Akan Menghentikan Kita?
Mungkin inilah pertanyaan yang paling penting.
Hari ini kita melihat orang lain melakukan kesalahan.
Kita marah.
Kita menghakimi.
Kita berkata:
“Dia memang pantas mendapatkannya.”
Tetapi bagaimana jika suatu hari kita yang dituduh?
Bagaimana jika suatu hari nama kita yang diviralkan?
Bagaimana jika suatu hari orang-orang berkumpul dan merasa yakin bahwa kita bersalah?
Dan mereka tidak mau mendengar penjelasan kita?
Apakah kita masih akan mengatakan bahwa massa berhak menghukum seseorang hanya karena mereka merasa orang itu bersalah?
Atau kita baru akan meminta hukum, proses, bukti, dan keadilan ketika kita sendiri yang menjadi terdakwa?
Karena itu, mungkin kita perlu belajar satu hal:
Jangan biarkan kemarahan membuat kita kehilangan keadilan.
Sebab orang yang salah tetap harus mempertanggungjawabkan kesalahannya.
Tetapi orang yang menghukum juga harus mempertanggungjawabkan caranya.
Dan ketika kemarahan sudah kehilangan rem, yang hilang bukan hanya kendali—kadang, nyawa manusia.

0 Komentar